I.
PENDAHULUAN
Filsafat nilai
atau aksiologi membahas tentang masalah nilai atau norma yang berlaku pada
kehidupan manusia. Dari aksiologi ini, lahirlah dua cabang filsafat yang
membahas aspek kualitas hidup manusia yaitu etika dan moral. Perilaku manusia
sangat berhubungan dengan nilai. Semua yang dikerjakan dapat menghasilkan suatu
yang bernilai. Pada pembahasan filsafat nilai (aksiologi) ini, manusia akan
berfikir “apakah yang saya lakukan ini pantas atau tidak?” atau muncul
pertanyaan “apakah benda itu bernilaikarena kita menilainya, ataukah kita
menilainya karena benda itu bernilai?”.
Mengapa dalam
filsafat ada pandangan yang mengatakan
bahwa nilai itu sangatlah penting. Karena filsafat itu sebagai “phylosophy
of life” yaitu mempelajari nilai-nilai yang ada dalam kehidupan yang
berfungsi sebagai pengontrol sifat keilmuan manusia. Teori nilai berfungsi
mirip dengan agama yang menjadi pedoman kehidupan manusia. dalam teori nilai,
terkandung tujuan bagaimana manusia mengalami kehidupan dan memberi makna
terhadap kehidupan ini. Nilai merupakan suatu yang keberadaannya nyata, tetapi
ia bersembunyi dibalik kenyataan yang tampak, tidak tergantung pada
kenyataan-kenyataan lain, dan tidak pernah mengalami perubahan (meskipun
pembawa nilai bisa berubah). Untuk lebih jelasnya makalah ini akan berusaha membahas
tentang filsafat nilai atau aksiologi.
II.
RUMUSAN
MASALAH
A. Apa pengertian dari filsafat nilai itu?
B.
Bagaimana sejarah filsafat nilai?
C.
Siapa saja tokoh-tokoh dalam
filsafata nilai?
D.
Apa saja aliran-aliran dalam
filsafat nilai?
E.
Apa pengertian dari etika dan
estetika?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian filsafat nilai
Aksiologisme
berasal dari kata Yunani axios yang berarti bernilai, berharga. Dan logos
yang berarti gagasan, pikiran, atau kata yang mengungkapkan gagasan dan
pikiran itu. Aksiologisme adalah sistem etika yang menilai baik buruknya
perbuatan dari segi bernilai dan tak bernilainya, maka disebut juga Etika
Aksiologis, axiological ethics. Dalam praktek bernilainya perbuatan
ditetapkan berdasarkan tujuan, maksud, dan motif orang yang melakukannya. Dalam
bahasa Yunani kata untuk tujuan, maksud adalah telos. Oleh karena itu,
etika aksiologis juga disebut etika teleologis, teleological ethics.
Kata kunci dalam aksiologisme adalah nilai, harga, value. Oleh adanya
nilai itu, hidup manusia menjadi bernilai, berarti, bermakna, dan dapat dibuat
bertambah bernilai, berarti, bermakna. Apabila sudah menjadi milik, nilai itu
menjadi prinsip dan cita-cita yang melandasi dan mengarahkan hidup manusia.
untuk itu nilai yang sekadar ada, nilai objektif, objective value, perlu dijadikan nilai subjektif, subjective
value. Pemilikan nilai objektif menjadi subjektif itu pada gilirannya
mengandaikan pemahaman atas nilai-nilai yang ada, sikap mau memilih, memeluk,
dan menghayatinya.
Karena manusia
terdiri atas unsur fisik atau biologis, unsur indrawi, dan budi. Maka, dapat
dikenal bahwa ada tiga tingkat nilai manusiawi. Pertama, nilai-nilai
yang cocok bagi manusia pada tingkat hidup fisik-biologisnya. Nilai ini
terdapat pada hidup sendiri, pada hal-hal yang diperlukan untuk menjaga dan
melangsungkan kehidupan, seperti benda dan barang material untuk rumah,
pakaian, dan makan minum, dan pada kerja sebagai cara untuk mendapatkan nafkah.
Kedua, nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia makhluk yang berpanca
indra, berkat pengalaman enak tidak enak, senang tidak senag, suka dukanya
kehidupan. Ketiga, nilai yang merupakan nilai khas manusiawi, yaitu
manusia sebagai makhluk rohani, spiritual. Nilai-nilai yang cocok bagi manusia
sebagai makhluk rohani atau nilai rohani mencakup nilai sosial, nilai
kebudayaan, nilai moral dan religius.[1]
B.
Sejarah filsafat nilai
Filsafat nilai
meliputi: sejarah perkembangan filsafat dan nilai, obyek dan subyek nilai serta
nilai kuantitas dan kualitas. Mengenai sejarah perkembangan filsafat dan nilai,
seperti filsafat nilai. Adapun sejarah perkembangan filsafat nilai secara non
formal berkembang sejak zaman Heraklitos, Permenides, Hipias, Gorgias sampai
kepada perkembangan filsafat abad pertengahan dan abad modern yang melatar
belakangi munculnya filsafat nilai di awal abad ke-19. Perkembangan selanjutnya
memasuki wilayah kajian sumber nilai, nilai subyek dan obyektis dan nilai yang
berkuantitas dan kualitas.
Munculnya
filsafat nilai masalah eksistensi dan esensi alam, manusia dan Tuhan atau yang
ada dan mungkin ada sebagai obyek nilai menjadi fokus dalam pengajian para
filosof sejak dahulu kala. Antara lain yang pertama sekali mengemukakannya
adalah seorang filosof kenamaan Yunani yakni Thales (624-546SM). Sebagai bapak
filsafat kelahiran Miletus negara bagian Yunani, pertama ia mengajukan sebuah
pertanyaan yang relevan dengan ada dan ada (pengada pertama) yaitu “what is the nature of world stuf?” (apa
sebenarnya bahan alam semesta itu?). Pertanyaan ini ditemukan jawabannya oleh
Thales bahwa bahan atau sesuatu itu adalah “air”. Secara aksiologis apakah air
mempunyai nilai objektif atau subjektif. Mungkinkah air bernilai meskipun tanpa
epistemolog dan ontologinya? Atau apakah air termasuk kategorisasi nilai atau
tidak bernilai?
Perkembangan
selanjutnya sekitar pada tahun 500-an SM
muncul buah pikiran baru, atau filsafat baru dari seorang ahli yang
berusaha keras untuk memutar otaknya dan sempat mengagetkan bahkan menggegerkan
orang awam. Hal ini dilontarkan oleh Heraklitos dalam filsafatnya “bahwa
sesungguhnya yang ada, yang hakikat ialah gerak dan perubahan (pantarei)”.
Penggerak pertama memberikan nilai guna dan manfaat atas segala fungsinya.
Ataukah gerak dan perubahan itu juga mengandung nilai atau nuhil. Perkembangan
kecermelangan pemikiran kedua filosof tersebut (Thales-Heraklitos) sungguh
telah mempromosikan dan memperlihatkan aksiologi kehebatan akal manusia.
Kekaguman terhadap aksiologi kemampuan rasional manusia ini semakin ramai
ketika munculnya Zeno (lahir tahun 490 SM) sebagai tokoh pertama yang
mengajarkan ajaran kebenaran, dan kebenaran itu mampu ditangkap oleh intelek
manusia.
Perkembangan
selanjutnya ketika munculnya keraguan terhadap berbagai nilai kebenaran yang
muncul, menyebabkan pemikiran manusia pada saat itu mengalami kegoncangan.
Kegoncangan itu membuat mereka selalu melahirkan teori pencarian nilai
kebenaran melalui metode dialektika (tesa-antitesa-sintesa). Dari perkembangan
pemikiran manusia selanjutnya selalu melahirkan aksiologi pemikiran filsafat
yang relatif adanya, hal ini disebabkan oleh ciri kebenaran dalam filsafat yang
relatif pula.[2]
C.
Tokoh-tokoh dalam filsafat nilai
1.
Bertrand Russell
, Nilai dalam diri
Berkaitan
dengan persoalan nilai , Russell berpendapat bahwa persoalan yang mengacu pada
nilai berada diluar bidang ilmu, bukan karena persoalan tersebut ersentuhan
dengan filsafat , tetapi karena “ persoalan nilai sama sekali terletak diluar
ranah pengetahuan”.
2.
R.B. Perry,
Kepentingan sebagai Dasar nilai
R.B.
Perry menolak hubungan antara nilia dan perhatian . dia menegaskan bahwa objek memiliki nilai
manakala perhatian teranam diatasnya . akan tetapi bukan berarti Perry
menyatakan bahwa objek harus memiliki kualitas tertentu agar memiliki nilai
atau perhatian tertentu merupakan stu-satunya hal yang dapatmenyimpan nilai
pada suatu objek. Baginya , perhatin apa
saja dapat menyimpan nilai pada suatu objek.[3]
3.
Rudolf Carnap,
Makna dan Kebutuhan
Bagi
Carnap, pertimbangan nilai merupakan bentuk norma dan imperative yang
tersembunyi. Diantara pertimbangn nilai “adalah jahat untuk membunuh” dan
imperative “kamu jangan membunuh”, tidak ada perbdaan dalam isi , hanya satu
perumusan. Bentuk gramatikal pertimbangan nilai adalah apa yang telah
memperdaya banyak orang yang percaya bahwa mereka berurusan dengan satu penegasan
, mencari argument untuk menegaskan atau menmbuktikan kebenaran ataupun
kesalahan.[4]
4.
Max Scheler,
Nilai pribadi dan Nilai barang
Hanya
pribadi yang secra moral dapat mengetahui sesuatu itu baik atau jahat. Nilai
pribadi berkait dengan pribadi sendiri , tanpa perantara apapun, sedangkan
nilai barang menyangkut kehadiran nilai dalam hal bernilai. Hal bernilai munkin
bersifat materiil (hal yang menyenangkan, hal yang berguna), vital (segala hal
yang bersifat ekonomis), tu spiritual (ilmu pengetahuan dan seni, yang juga
disebut nilai budaya).[5]
5.
Alfred ayer,
pertimbangan nilai
Menurut
ayer , pada hakikatnya etika sebgai salah satu cabang pengetahuan yng sah,
tidak memiliki kemungkinan eksistansi. Persoalan etika yang diasumsikan bila
persoalan tersebut memilik makna, benar-benar termasuk psikologi dan sosiologi.
Oleh karena itu , tidak ada cara untk menentukan validitas system etis , dan
akibat omong kosong untuk mengajukan pertanyaan apakah itu benar atau salah.[6]
6.
Schwartz, Nilai
sebagai objek kepentingan
Pemahaman
tentang nilai tidak terlepas dari pemahaman tentang cara nilai itu berbentuk .
Schwartz berpandangan bahwa nilai merupakan representas kognitif dari tiga tipe
persyaraan hidup manusia yang universal, yaitu:
a.
Kebutuhan
individu sebagi orgnisme biologis;
b.
Persyaratan
interaksi social yang membutuhkan koordinasi interpersonal tununan instuti
social untuk mencapa kesejahteraan kelompok;
c.
Kelangsungan
hidup kelompok.
Tipe Nilai
Penelitian
Schwartz mengenai nilai salah satunya bertujuan untuk memecahkan masalah apakah
nilai-nilai yang dianut oleh manusia dapat dikelompokkan menjadi beberapa tipe
nilai (value type). Lalu masing-masing tipe tersebut terdiri pula dari sejumlah
nilai yang lebih khusus. Setiap tipe nilai merupakan wilayah motivasi
tersendiri yang berperan memotivasi seseorang dalam bertingkah laku. Karena
itu, Schwartz juga menyebut tipe nilai ini sebagai motivational type of value.
Dari
hasil penelitiannya di 44 negara, Schwartz (1992, 1994) mengemukakan adanya 10
tipe nilai (value types) yang dianut oleh manusia, yaitu :
1)
Power
Tipe
nilai ini merupakan dasar pada lebih dari satu tipe kebutuhan yang universal,
yaitu transformasi kebutuhan individual akan dominasi dan kontrol yang
diidentifikasi melalui analisa terhadap motif sosial. Tujuan utama dari tipe
nilai ini adalah pencapaian status sosial dan prestise, serta kontrol atau
dominasi terhadap orang lain atau sumberdaya tertentu. Nilai khusus (spesific
values) tipe nilai ini adalah : social power, authority, wealth, preserving my
public image dan social recognition.
2)
Achievement
Tujuan
dari tipe nilai ini adalah keberhasilan pribadi dengan menunjukkan kompetensi
sesuai standar sosial. Unjuk kerja yang kompeten menjadi kebutuhan bila
seseorang merasa perlu untuk mengembangkan dirinya, serta jika interaksi sosial
dan institusi menuntutnya. Nilai khusus yang terdapat pada tipe nilai ini
adalah : succesful, capable, ambitious, influential.
3)
Hedonism
Tipe
nilai ini bersumber dari kebutuhan organismik dan kenikmatan yang diasosiasikan
dengan pemuasan kebutuhan tersebut. Tipe nilai ini mengutamakan kesenangan dan
kepuasan untuk diri sendiri. Nilai khusus yang termasuk tipe nilai ini adalah :
pleasure, enjoying life.
4)
Stimulation
Tipe
nilai ini bersumber dari kebutuhan organismik akan variasi dan rangsangan untuk
menjaga agar aktivitas seseorang tetap pada tingkat yang optimal. Unsur
biologis mempengaruhi variasi dari kebutuhan ini, dan ditambah pengaruh
pengalaman sosial, akan menghasilkan perbedaan individual tentang pentingnya
nilai ini. Tujuan motivasional dari tipe nilai ini adalah kegairahan, tantangan
dalam hidup. Nilai khusus yang termasuk tipe nilai ini adalah : daring, varied
life, exciting life.
5)
Self-direction
Tujuan
utama dari tipe nilai ini adalah pikiran dan tindakan yang tidak terikat
(independent), seperti memilih, mencipta, menyelidiki. Self-directionbersumber
dari kebutuhan organismik akan kontrol dan penguasaan (mastery), serta
interaksi dari tuntutan otonomi dan ketidakterikatan. Nilai khusus yang
termasuk tipe nilai ini adalah : creativity, curious, freedom, choosing own
goals, independent.
6)
Universalism
Tipe
nilai ini termasuk nilai-nilai kematangan dan tindakan prososial. Tipe nilai
ini mengutamakan penghargaan, toleransi, memahami orang lain, dan perlindungan
terhadap kesejahteraan umat manusia. Contoh nilai khusus yang termasuk tipe
nilai ini adalah : broad-minded, social justice, equality, wisdom, inner harmony.
7)
Benevolence
Tipe
nilai ini lebih mendekati definisi sebelumnya tentang konsep prososial. Bila
prososial lebih pada kesejahteraan semua orang pada semua kondisi, tipe nilai
benevolence lebih kepada orang lain yang dekat dari interaksi sehari-hari. Tipe
ini dapat berasal dari dua macam kebutuhan, yaitu kebutuhan interaksi yang
positif untuk mengembangkan kelompok, dan kebutuhan organismik akan afiliasi.
Tujuan motivasional dari tipe nilai ini adalah peningkatan kesejahteraan
individu yang terlibat dalam kontak personal yang intim. Nilai khusus yang
termasuk tipe nilai ini adalah : helpful,honest, forgiving, responsible, loyal,
true friendship, mature love.
8)
Tradition
Kelompok
dimana-mana mengembangkan simbol-simbol dan tingkah laku yang merepresentasikan
pengalaman dan nasib mereka bersama. Tradisi sebagian besar diambil dari ritus
agama, keyakinan, dan norma bertingkah laku. Tujuan motivasional dari tipe
nilai ini adalah penghargaan, komitmen, dan penerimaan terhadap kebiasaan,
tradisi, adat istiadat, atau agama. Nilai khusus yang termasuk tipe nilai ini
adalah : humble, devout, accepting my portion in life, moderate, respect for
tradition.
9) Conformity
Tujuan
dari tipe nilai ini adalah pembatasan terhadap tingkah laku, dorongan-dorongan
individu yang dipandang tidak sejalan dengan harapan atau norma sosial. Ini
diambil dari kebutuhan individu untuk mengurangi perpecahan sosial saat
interaksi dan fungsi kelompok tidak berjalan dengan baik. Nilai khusus yang termasuk
tipe nilai ini adalah politeness,
obedient,honoring parents and elders, self discipline.
10) Security
Tujuan
motivasional tipe nilai ini adalah mengutamakan keamanan, harmoni, dan
stabilitas masyarakat, hubungan antar manusia, dan diri sendiri. Ini berasal
dari kebutuhan dasar individu dan kelompok. Tipe nilai ini merupakan pencapaian
dari dua minat, yaitu individual dan kolektif. Nilai khusus yang termasuk tipe
nilai ini adalah national security, social order, clean, healthy, reciprocation
of favors, family security, sense of belonging.[7]
D.
Aliran-aliran dalam filsafat nilai
Adapun
aliran-aliran dalam filsafat nilai yaitu, diantaranya:
1.
Eidemonia Aristoteles
Aristoteles
lahir di stagira, kota diwilayah Chalcidice, Thracia Yunani (dahulunya termasuk
wilayah Makedonia tengah) tahun 384 SM. Ayahnya adalah tabib pribadi Raja Amyntas
dari Makedonia. Pada usia 17 tahun, Aristoteles tergabung menjadi murid plato.
Kemudian, ia meningkat menjadi guru di Akademik Plato di Athena selama 20
tahun. Setelah plato meninggal, Aristoteles meninggalkan akademik tersebut dan
menjadi guru bagi Alexander dari makedonia. Saat Alexander berkuasa pada tahun
336 SM, Aristoteles kembali keAthena. Dengan dukungan dan bantuan Alekander, ia
mendirikan akademi sendiri yang diberi nama lyceum, yang dipimpimpinya sampai
tahun 323 SM.
Filsafat
Aristoteles berkembang pada saat ia memimpin lyceum, yang mencangkupnenam karya
tulisnya yang membahas masalah logika.
Keenam karya tulis tersebut dianggap sebagai karya yang paling penting,
selain kontribusinya dalam bidang metafisika, fisika, etika, politik, kedokteran,
dan ilmu alam.
Pemikiran
aristoteles sangat berpengaruh pada pemikiran barat dn pemikiran keagamaan lain
pada umumnya.penyelarasan pemikiran Aristoteles dengan teologi kristiani
dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas pada abad ke-13, dengan teologi yahudi oleh
maimonides (1135-1204), dan dengan teologi islam oleh ibnu rusyd (1126-1198).
Bagi manusia abad pertengahan, Aristoteles tidak hanya dianggap sebagai sumber
yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, tetepi juga dianggap sebagai
sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau the master of those who know,
sebagaimana yang kemudian dikatakan oleh Dante Alighieri.
Meskipun
Aristoteles merupakan murid terkemuka plato, ia tidak sependapat dengan gurunya
yang menyatakan bahwa manusia telah mengenal idea yang baik dan hidup yang baik
bisa tercapai dengan kontemplasi dengan idea yang baik tersebut. Menurut
Aristoteles kehidupan yang baik harus dicari dan bertolak dari realitas manusia
mengabstrasikan apa yang disebut kebaikan. Berangkat dari pendekatan yang serba
empiris yang digunakan Aristoteles, konsep-konsep tentang moral antara lain
sebagai berikut:
a.
Teologis
Pembahasan etika biasanya dibedakan
antara etika deontologis dan teologis. Deontologis menyatakan bahwa kualitas
etis tindakan tidak berhubungan dengan akibat tindakan, tetapi bertumpu pada
tindakan itu sendiri, benar atau salah. Teologis menyatakan bahwa tindakan
bersifat netral. Ia baru dinilai benar atau salah setelah melihat akibat atau
tujuannya. Sebuah tindakan di nilai benar jika akibatnya baik, dan dinilai
salah jika akibatnya tidak baik.[8]
b.
Eidemonia
Eidemonia atau kebahagiaan adalah
tujuan sekaligus penentu baik buruknya tindakan dalam etika Aristoteles.
Menurutnya, sesuatu dinilai baik apabila tujuannya mengarah pada pencapaiaan
kebahagiaan, dan dinilai buruk jika tidak diarahkan pada kebahagiaan.[9]
2.
Aliran hedonisme
Hedonisme adalah istilah teknis yang menunjuk
paham mementingkan kesenangan dan kemewahan fisik. Hedonisme berasal dari kata
latin hedon, yang berarti kesenangan. Dalam sejarah filsafat yunani kuno,
tokoh pertama yang dikenal mengajar aliran hedonisme adalah Decocritus (400-370
SM)., yang memandang kesenangan sebagai tujuan pokok di dalam kehidupan.
Sekaliun kesenangan yang dimaksud bukan semata-mata kesenangan fisik belaka.
Kesenangan fisik hanya sebagai alat perangsang bagi berkembangnya intelek
manusia. Menurut salah seorang pengikut socrates, yaitu Aristippus (394 SM),
kesenangan merupakan satu-satunya ingin dicari manusia. Kesenangan diperoleh
langsung dari panca indera. Orang yang bijaksana selalu mengusahakan kesenangan
sebanyak-banyaknya, sebab kesakitan merupakan prngalaman yang tidak
menyenangkan.
Bentuk hedonisme yang bercorak eudaimonisme
adalah epicurisme. Aliran hedonisme dari yunani kuno timbul kembali pada abad
ke-7 di inggris dengan ungkapannya, bahwa kesenangan yang dianggap penting
sebagai hasil dari setiap keputusan dan tindakan manusia. Tokoh yang terkenal
adalah jemery bentham (1748-1832). Sikap etis bagi betham adalah kemampuan
menghitung dengan cermat rasa senang dan sakit hati, sebagai hasil perbuatan
untuk kemudian mengurangi sebanyak mungkin rasa sakit menuju sebanyak-banyaknya
rasa senang. Konsep hedonistik calculus atau rumus menghitung jumlah rasa
senang dan sakit. Ukuranya meliputi tujuh unsur, yaitu:
1.
Intensity, kuat atau
lamahnya rasa sakit dan senang.
2.
Duration, panjang atau
pendeknya waktu berlaku rasa sakit dan senang.
3.
Certainty, kepastian
akan timbulnya rasa tersebut.
4.
Propincuity, dekat
atau jauhnya waktu terjadi perasaan
sakit dan senang.
5.
Fecundity, kemungkinan
rasa sakit dan senang diikuti oleh perasaan yang sama.
6.
Purity, kemurnian
dalam arti tidak tercampurnya dengan perasaan yang berlawanan.
3.
Utilitarianisme
Utilitarisme adalah sebuah gagasan yang
diusulkan oleh David Hume untuk menjawab moralitas yang saat itu mulai
diterpadai keraguan yang besar, tetapi pada saat yang sama masih tetap sangat
terpaku pada aturan-aturan ketat moralitas yang tidak mencerminkan perubahan
radikal pada zamannya.
Ulilitarisme secara utuh dirumuskan oleh Jeremy
Bentham dan dikembangkan secara lebih luas oleh James Mill dan John Stuart
Mill. Utilitarisme terkadang disebut dengan teori kebahagiaan terbesar yang
mengajarkan bahwa setiap manusia berhak meraih kebahagiaan (kenikmatan)
terbesar untuk orang terbanyak.
Bentham memperkenalkan metode untuk memilih
tindakan yang disebut dengan utility calculus, hedonistik calculus,
atau felicity calculus. Menurutnya, pilihan moral yang harus dijatuhkan
pada tindakan yang lebih banyak jumlahnya dalam memberikan kenikmatan, daripada
penderitaan yang dihasilkan oleh tindakan tersebut. Jumlah kenikmatan
ditentukan oleh intensi, durasi, kedekatan dalam ruang, produktifitas
(kemanfaatan atau kesuburan), dan kemurnian (tidak diikuti oleh perasaan yang
tidak enak seperti sakit atau kebosanan).
Para utilitarian menyusun argumennya dalam tiga
langkah berikut berkaitan dengan pembenaran euthanasia (mercy killing), yaitu:
a.
Perbuatan yang benar secara moral
adalah yang paling banyak memberikan jumlah kenikmatan dan kebahagiaan pada
manusia.
b.
Dalam beberapa kesempatan,
perbuatan yang paling banyak memberikan jumlah kenikmatan dan kebahagiaan pada
manusia bisa dicapai melalui euthanasia.
c.
Dalam beberapa kesempatan,
euthanasia dapat dibenarkan secara moral.
Argumen diatas tampak bertentangan dengan
agama, Bentham menegaskan bahwa agama akan mendukung, bukan menolak, sudut
pandang utilitarian bila para pemeluknya benar-benar memegang pandangan mereka
tentang tuhan yang penuh kasih sayang.
4.
Aliran pragmatisme
Istilah pragmatisme berasal dari kata yunani,
“pragma”, yang berarti perbuatan atau tindakan dan “isme” yang sama artinya dengan isme-isme lainya,
yaitu aliran,ajaran atau paham. Dengan demikian, pragmatisme berarty ajaran
yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Kreteria kebenarannya
adalah “faedah atau manfaat”.suatu teori atau hipotesis dianggap benar oleh
paragmatisme apabila membawa hasil. Dengan kata lain, teori adalah benar if it
works (apabila teori dapat diaplikasikan). Pada awal perkmbangannya, pragmatisme lebih
merupakan usaha untuk menyatukan ilmu pengetahuan dan filsafat agar filsafat
dapat menjadi ilmiah dan berguna bagi kehidupanpraktis manusia. Sehubungan
dengan usaha trsebut, pragmatisme akhirnya berkembang menjadi metode untuk
memecahkan berbagai perdebatan filosofis-metafisik yang tiada henti-hentinya,
yang hampir mewarnai seluruh perkembangan dan perjalanan filsafat sejak jaman
yunani kuno.
5.
Nihilisme dan pencarian nilai
Jean-paul sartre adalah seorang nihilis, tetapi
nihilismenya adalah konsekuensi logis kesadaran yang terus berkembang dari
zaman kita bahwa nilai-nilai tidak bisa dilembagakan sehingga harus dicari pada
tataran pribadi.
Sartre berpendapat bahwa manusia bebas “secara
radikal” karena dia selalu mempunyai pilihan untuk menerima atau menolak. Akan
tetapi, kebiasaan menggunakan heroin terbentuk, kebebasan untuk menolaknya
hampir tidak “radikal”. Bahkan sering tidak ada sama sekali.
Kebebasan manusia tidak mungkin absolud selama
terkait oleh hukum kodrat. akan tetapi kata-kata bisa menjadi mainan yang
menyesatkan. Misalnya: orang yang menganggap manusia merdeka, bicara dari sisi
moral, sebagai seseorang yang menjalani kehidupan yang tidak bertanggung jawab
dan tidak bermoral, sehingga orang membayangkan kebebesan berarti kebiasaan
tidak terkendali dalam segala perkataan yang menyesatkan.[11]
E.
Pengertian etika dan estetika
Dalam
konteks filsafat, istilah etika berasal dari bahasa Yunani yaitu
ethikos, ethos yang berarti adat, kebiasaan atau praktik. Maka etika
berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau tentang adat kebiasaan.
Sedangkan
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika didefinisikan sebagai ilmu
tentang apa yang baik dan apa yang buruk, dan tentang hak dan kewajiban moral.
Di situ, etika dijelaskan dengan membedakan tiga arti:
1.
Ilmu tentang apa
yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).
2.
Kumpulan asas
atau nilai yang berkenaan dengan akhlak,.
3.
Nilai mengenai
benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.[12]
Etika
adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Jadi etika dan ajaran-ajaran moral
tidak berada di tingkat yang sama. Yang mengatakan bagaimana kita harus hidup,
bukan etika melainkan ajaran moral. Etika mau mengerti mengapa kita harus
mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita dapat mengambil sikap yang
bertanggung jawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral.
Jadi
etika sekaligus kurang dan lebih dari ajaran moral. Kurang, karena etika tidak
berwenang untuk menetapkan, apa yang boleh kita lakukan dan apa yang tidak.
Wewenang itu di klaim oleh berbagai pihak yang memberikan ajaran moral. Lebih,
karena etika berusaha untuk mengerti mengapa, atau dasar apa kita harus hidup
menurut norma-norma tertentu. Ajaran moral dapat diibaratkan dengan buku
petunjuk bagaimana kita harus memperlakukan sepeda motor kita dengan baik,
sedangkan etika memberikan kita pengertian tentang struktur dan teknologi
sepeda motor sendiri.[13]
Ada tiga macam pendekatan etika, yaitu:
Pertama,
etika deskriptif. Etika deskriptif
mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu tertentu, dalam
kebudayaan-kebudayaan atau subkultur-subkultur yang tertentu, dalam suatu periode
sejarah, dan sebagainya. Kedua, etika normatif yaitu tentang
masalah-masalah moral.[14] Ketiga,
metaetika yaitu mempelajari etika khusus dari ucapan-ucapan etis.[15]
Sementara itu, estetika (aesthetics)
adalah pengetahuan tentang sesuatu yang indah (mengandung keindahan). Jadi,
objeknya adalah hal yang dianggap indah dan hal yang dianggap tidak indah atau
jelek. Ia membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Dari
estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari
berbagai macam hasil budaya manusia.
Estetika adalah cabang filsafat yang
memberikan perhatian pada sifat keindahan, seni, rasa, atau selera (taste),
kreasi, dan apresiasi tentang keindahan. Secara lebih ilmiahnya, ia
didefinisikan sebagai studi tentang nilai-nilai yang dihasilkan dari
emosi-sensorik yang kadang dinamakan nilai sentimentalitas atau cita rasa atau
selera. Secara lebih luas, estetika didefinisikan sebagai refleksi kritis
tentang seni, budaya, dan alam. Estetika dikaitkan dengan aksiologi sebagai
cabang filsafat dan juga diasosiakan dengan filsafat seni.
Objek seni adalah keindahan. Kata
dasarnya adalah “indah” yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah bagus,
permai, cantik, elok, molek, dan lain sebagainya. Istilah “indah” sendiri
mengacu pada berbagai macam aspek. Misalnya, ada yang mengatakan bahwa
keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan kebenaran dan kebenaran adalah
keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama, yaitu abadi dan mempunyai daya
tarik sepanjang zaman.
Menurut The Liang Gie dalam bukunya Garis
Besar estetika, kata indah berasal dari bahasa Inggris beautiful,
dalam bahasa Prancis beaue, sedang dalam bahasa Italia dan Spanyol bello,
dan berasal dari kata latin bellum. Akar katanya adalah bonum
yang berarti kebaikan, kemudian mempunyai bentuk pengecilan menjadi bonellum
dan terakhir diperpendek sehingga ditulis bellum. Menurut cakupannya,
orang hanya membedakan antara keindahan sebagai suatu kwalitas abstrak dan
sebagai sebuah benda tertentu yang indah. Untuk perbedaan ini, dalam bahasa
Inggris sering dipergunakan istilah beauty (keindahan) dan the
beautiful (benda atau hal yang indah).
Keindahan memang harus dipahami
berdasarkan hubungan antara subjek dan objek (yang nyata). Indah atau tidak itu
adalah kualitas yang dihasilkan dari penilaian yang dipengaruhi oleh berbagai
macam faktor. Benda yang dianggap indah biasanya dikaitkan dengan kualitas
paling hakiki. Jadi, keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualitas pokok
adalah kesatuan (unity), keselarasan (harmony), kesetangkupan (symmetry),
keseimbangan (balance), dan perlawanan (contrast). Yang jelas,
keindahan adalah kualitas yang dinilai dari kenyataan. Kenyataan ini adalah
material, tersusun dari berbagai keselarasan dan kebaikan dari garis, warna,
bentuk, ukuran, bunyi (nada) dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat, bahwa
keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu
benda dan diantara benda itu dengan si pengamat.
Makna
Mempelajari Estetika
Perkembangan
dalam dunia estetika tidak hanya pada persoalan ekspresi dan pengertian, tetapi
lebih dari itu estetika menjadi sebuah ilmu. Karena estetika telah menjadi
disiplin ilmu, tentu ada aspek aksiologimya, yaitu asas manfaat bagi manusia.
Untuk itu, kita perlu meyakini manfaat apa yang kita dapatkan dari ilmu
estetika. Dengan kata lain, gunanya kita mempelajari ilmu estetika. Adapun
manfaat dari mempelajari ilmu estetika adalah sebagai berikut :
1.
Memperdalam
pengertian rasa indah pada umumnya dan kesenian pada khususnya.
2.
Memperluas
pengetahuan dan menyempurnakan pengertian unsur-unsur objektif yang
membangkitkan rasa indah pada manusia.
3.
Memperluas
pengetahuan dan menyempurnakan pengertian unsur-unsur subjektif yang
berpengaruh atas kemampuan manusia menikmati keindahan.
4.
Memperkukuh rasa
cinta pada kesenian dan kebudayaan bangsa pada umumnya serta mempertajam
kemampuan untuk mengapresiasi (menghargai) kesenian dan kebudayaan bangsa lain
sehingga mempererat hubungan antar bangsa.
5.
Melatih diri
untuk untuk berdisiplin dalam cara berfikir dan mengatur pemikiran dengan
sistematik yang baik, membangkitkan potensi untuk berfalsafah, yang akan
memberikan kemudahan dalam menghadapi segala permasalahan, memberi wawasan yang
luas dan bekal bagi kehidupan spiritual dan psikologis.[16]
IV.
KESIMPULAN
V.
PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami
sampaikan. Kami sebagai penulis tidak dapat memungkiri bahwa adanya kekurangan
dan kelemahan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami mohon kritik dan saran
yang membangun dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi
pembaca sekalian.