Rabu, 10 Juni 2015

FILSAFAT NILAI



I.              PENDAHULUAN
Filsafat nilai atau aksiologi membahas tentang masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Dari aksiologi ini, lahirlah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia yaitu etika dan moral. Perilaku manusia sangat berhubungan dengan nilai. Semua yang dikerjakan dapat menghasilkan suatu yang bernilai. Pada pembahasan filsafat nilai (aksiologi) ini, manusia akan berfikir “apakah yang saya lakukan ini pantas atau tidak?” atau muncul pertanyaan “apakah benda itu bernilaikarena kita menilainya, ataukah kita menilainya karena benda itu bernilai?”. 
Mengapa dalam filsafat ada pandangan yang mengatakan  bahwa nilai itu sangatlah penting. Karena filsafat itu sebagai “phylosophy of life” yaitu mempelajari nilai-nilai yang ada dalam kehidupan yang berfungsi sebagai pengontrol sifat keilmuan manusia. Teori nilai berfungsi mirip dengan agama yang menjadi pedoman kehidupan manusia. dalam teori nilai, terkandung tujuan bagaimana manusia mengalami kehidupan dan memberi makna terhadap kehidupan ini. Nilai merupakan suatu yang keberadaannya nyata, tetapi ia bersembunyi dibalik kenyataan yang tampak, tidak tergantung pada kenyataan-kenyataan lain, dan tidak pernah mengalami perubahan (meskipun pembawa nilai bisa berubah). Untuk lebih jelasnya makalah ini akan berusaha membahas tentang filsafat nilai atau aksiologi.

II.           RUMUSAN MASALAH
A.   Apa pengertian dari filsafat nilai itu?
B.        Bagaimana sejarah filsafat nilai?
C.        Siapa saja tokoh-tokoh dalam filsafata nilai?
D.       Apa saja aliran-aliran dalam filsafat nilai?
E.        Apa pengertian dari etika dan estetika?

III.        PEMBAHASAN
A.       Pengertian filsafat nilai
Aksiologisme berasal dari kata Yunani axios yang berarti bernilai, berharga. Dan logos yang berarti gagasan, pikiran, atau kata yang mengungkapkan gagasan dan pikiran itu. Aksiologisme adalah sistem etika yang menilai baik buruknya perbuatan dari segi bernilai dan tak bernilainya, maka disebut juga Etika Aksiologis, axiological ethics. Dalam praktek bernilainya perbuatan ditetapkan berdasarkan tujuan, maksud, dan motif orang yang melakukannya. Dalam bahasa Yunani kata untuk tujuan, maksud adalah telos. Oleh karena itu, etika aksiologis juga disebut etika teleologis, teleological ethics. Kata kunci dalam aksiologisme adalah nilai, harga, value. Oleh adanya nilai itu, hidup manusia menjadi bernilai, berarti, bermakna, dan dapat dibuat bertambah bernilai, berarti, bermakna. Apabila sudah menjadi milik, nilai itu menjadi prinsip dan cita-cita yang melandasi dan mengarahkan hidup manusia. untuk itu nilai yang sekadar ada, nilai objektif, objective value,  perlu dijadikan nilai subjektif, subjective value. Pemilikan nilai objektif menjadi subjektif itu pada gilirannya mengandaikan pemahaman atas nilai-nilai yang ada, sikap mau memilih, memeluk, dan menghayatinya.
Karena manusia terdiri atas unsur fisik atau biologis, unsur indrawi, dan budi. Maka, dapat dikenal bahwa ada tiga tingkat nilai manusiawi. Pertama, nilai-nilai yang cocok bagi manusia pada tingkat hidup fisik-biologisnya. Nilai ini terdapat pada hidup sendiri, pada hal-hal yang diperlukan untuk menjaga dan melangsungkan kehidupan, seperti benda dan barang material untuk rumah, pakaian, dan makan minum, dan pada kerja sebagai cara untuk mendapatkan nafkah. Kedua, nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia makhluk yang berpanca indra, berkat pengalaman enak tidak enak, senang tidak senag, suka dukanya kehidupan. Ketiga, nilai yang merupakan nilai khas manusiawi, yaitu manusia sebagai makhluk rohani, spiritual. Nilai-nilai yang cocok bagi manusia sebagai makhluk rohani atau nilai rohani mencakup nilai sosial, nilai kebudayaan, nilai moral dan religius.[1]

B.        Sejarah filsafat nilai
Filsafat nilai meliputi: sejarah perkembangan filsafat dan nilai, obyek dan subyek nilai serta nilai kuantitas dan kualitas. Mengenai sejarah perkembangan filsafat dan nilai, seperti filsafat nilai. Adapun sejarah perkembangan filsafat nilai secara non formal berkembang sejak zaman Heraklitos, Permenides, Hipias, Gorgias sampai kepada perkembangan filsafat abad pertengahan dan abad modern yang melatar belakangi munculnya filsafat nilai di awal abad ke-19. Perkembangan selanjutnya memasuki wilayah kajian sumber nilai, nilai subyek dan obyektis dan nilai yang berkuantitas dan kualitas.
Munculnya filsafat nilai masalah eksistensi dan esensi alam, manusia dan Tuhan atau yang ada dan mungkin ada sebagai obyek nilai menjadi fokus dalam pengajian para filosof sejak dahulu kala. Antara lain yang pertama sekali mengemukakannya adalah seorang filosof kenamaan Yunani yakni Thales (624-546SM). Sebagai bapak filsafat kelahiran Miletus negara bagian Yunani, pertama ia mengajukan sebuah pertanyaan yang relevan dengan ada dan ada (pengada pertama)  yaitu “what is the nature of world stuf?” (apa sebenarnya bahan alam semesta itu?). Pertanyaan ini ditemukan jawabannya oleh Thales bahwa bahan atau sesuatu itu adalah “air”. Secara aksiologis apakah air mempunyai nilai objektif atau subjektif. Mungkinkah air bernilai meskipun tanpa epistemolog dan ontologinya? Atau apakah air termasuk kategorisasi nilai atau tidak bernilai?
Perkembangan selanjutnya sekitar pada tahun 500-an SM  muncul buah pikiran baru, atau filsafat baru dari seorang ahli yang berusaha keras untuk memutar otaknya dan sempat mengagetkan bahkan menggegerkan orang awam. Hal ini dilontarkan oleh Heraklitos dalam filsafatnya “bahwa sesungguhnya yang ada, yang hakikat ialah gerak dan perubahan (pantarei)”. Penggerak pertama memberikan nilai guna dan manfaat atas segala fungsinya. Ataukah gerak dan perubahan itu juga mengandung nilai atau nuhil. Perkembangan kecermelangan pemikiran kedua filosof tersebut (Thales-Heraklitos) sungguh telah mempromosikan dan memperlihatkan aksiologi kehebatan akal manusia. Kekaguman terhadap aksiologi kemampuan rasional manusia ini semakin ramai ketika munculnya Zeno (lahir tahun 490 SM) sebagai tokoh pertama yang mengajarkan ajaran kebenaran, dan kebenaran itu mampu ditangkap oleh intelek manusia.
Perkembangan selanjutnya ketika munculnya keraguan terhadap berbagai nilai kebenaran yang muncul, menyebabkan pemikiran manusia pada saat itu mengalami kegoncangan. Kegoncangan itu membuat mereka selalu melahirkan teori pencarian nilai kebenaran melalui metode dialektika (tesa-antitesa-sintesa). Dari perkembangan pemikiran manusia selanjutnya selalu melahirkan aksiologi pemikiran filsafat yang relatif adanya, hal ini disebabkan oleh ciri kebenaran dalam filsafat yang relatif pula.[2]

C.        Tokoh-tokoh dalam filsafat nilai
1.   Bertrand Russell , Nilai dalam diri
Berkaitan dengan persoalan nilai , Russell berpendapat bahwa persoalan yang mengacu pada nilai berada diluar bidang ilmu, bukan karena persoalan tersebut ersentuhan dengan filsafat , tetapi karena “ persoalan nilai sama sekali terletak diluar ranah pengetahuan”.
2.   R.B. Perry, Kepentingan sebagai Dasar nilai
R.B. Perry menolak hubungan antara nilia dan perhatian . dia  menegaskan bahwa objek memiliki nilai manakala perhatian teranam diatasnya . akan tetapi bukan berarti Perry menyatakan bahwa objek harus memiliki kualitas tertentu agar memiliki nilai atau perhatian tertentu merupakan stu-satunya hal yang dapatmenyimpan nilai pada suatu objek. Baginya  , perhatin apa saja dapat menyimpan nilai pada suatu objek.[3]

3.   Rudolf Carnap, Makna dan Kebutuhan
Bagi Carnap, pertimbangan nilai merupakan bentuk norma dan imperative yang tersembunyi. Diantara pertimbangn nilai “adalah jahat untuk membunuh” dan imperative “kamu jangan membunuh”, tidak ada perbdaan dalam isi , hanya satu perumusan. Bentuk gramatikal pertimbangan nilai adalah apa yang telah memperdaya banyak orang yang percaya bahwa mereka berurusan dengan satu penegasan , mencari argument untuk menegaskan atau menmbuktikan kebenaran ataupun kesalahan.[4]

4.   Max Scheler, Nilai pribadi dan Nilai barang
Hanya pribadi yang secra moral dapat mengetahui sesuatu itu baik atau jahat. Nilai pribadi berkait dengan pribadi sendiri , tanpa perantara apapun, sedangkan nilai barang menyangkut kehadiran nilai dalam hal bernilai. Hal bernilai munkin bersifat materiil (hal yang menyenangkan, hal yang berguna), vital (segala hal yang bersifat ekonomis), tu spiritual (ilmu pengetahuan dan seni, yang juga disebut nilai budaya).[5]

5.   Alfred ayer, pertimbangan nilai
Menurut ayer , pada hakikatnya etika sebgai salah satu cabang pengetahuan yng sah, tidak memiliki kemungkinan eksistansi. Persoalan etika yang diasumsikan bila persoalan tersebut memilik makna, benar-benar termasuk psikologi dan sosiologi. Oleh karena itu , tidak ada cara untk menentukan validitas system etis , dan akibat omong kosong untuk mengajukan pertanyaan apakah itu benar atau salah.[6]

6.   Schwartz, Nilai sebagai objek kepentingan
Pemahaman tentang nilai tidak terlepas dari pemahaman tentang cara nilai itu berbentuk . Schwartz berpandangan bahwa nilai merupakan representas kognitif dari tiga tipe persyaraan hidup manusia yang universal, yaitu:
a.          Kebutuhan individu sebagi orgnisme biologis;
b.         Persyaratan interaksi social yang membutuhkan koordinasi interpersonal tununan instuti social untuk mencapa kesejahteraan kelompok;
c.          Kelangsungan hidup kelompok.

Tipe Nilai
Penelitian Schwartz mengenai nilai salah satunya bertujuan untuk memecahkan masalah apakah nilai-nilai yang dianut oleh manusia dapat dikelompokkan menjadi beberapa tipe nilai (value type). Lalu masing-masing tipe tersebut terdiri pula dari sejumlah nilai yang lebih khusus. Setiap tipe nilai merupakan wilayah motivasi tersendiri yang berperan memotivasi seseorang dalam bertingkah laku. Karena itu, Schwartz juga menyebut tipe nilai ini sebagai motivational type of value.
Dari hasil penelitiannya di 44 negara, Schwartz (1992, 1994) mengemukakan adanya 10 tipe nilai (value types) yang dianut oleh manusia, yaitu :
1)       Power
Tipe nilai ini merupakan dasar pada lebih dari satu tipe kebutuhan yang universal, yaitu transformasi kebutuhan individual akan dominasi dan kontrol yang diidentifikasi melalui analisa terhadap motif sosial. Tujuan utama dari tipe nilai ini adalah pencapaian status sosial dan prestise, serta kontrol atau dominasi terhadap orang lain atau sumberdaya tertentu. Nilai khusus (spesific values) tipe nilai ini adalah : social power, authority, wealth, preserving my public image dan social recognition.



2)       Achievement
Tujuan dari tipe nilai ini adalah keberhasilan pribadi dengan menunjukkan kompetensi sesuai standar sosial. Unjuk kerja yang kompeten menjadi kebutuhan bila seseorang merasa perlu untuk mengembangkan dirinya, serta jika interaksi sosial dan institusi menuntutnya. Nilai khusus yang terdapat pada tipe nilai ini adalah : succesful, capable, ambitious, influential.
3)       Hedonism
Tipe nilai ini bersumber dari kebutuhan organismik dan kenikmatan yang diasosiasikan dengan pemuasan kebutuhan tersebut. Tipe nilai ini mengutamakan kesenangan dan kepuasan untuk diri sendiri. Nilai khusus yang termasuk tipe nilai ini adalah : pleasure, enjoying life.
4)       Stimulation
Tipe nilai ini bersumber dari kebutuhan organismik akan variasi dan rangsangan untuk menjaga agar aktivitas seseorang tetap pada tingkat yang optimal. Unsur biologis mempengaruhi variasi dari kebutuhan ini, dan ditambah pengaruh pengalaman sosial, akan menghasilkan perbedaan individual tentang pentingnya nilai ini. Tujuan motivasional dari tipe nilai ini adalah kegairahan, tantangan dalam hidup. Nilai khusus yang termasuk tipe nilai ini adalah : daring, varied life, exciting life.
5)       Self-direction
Tujuan utama dari tipe nilai ini adalah pikiran dan tindakan yang tidak terikat (independent), seperti memilih, mencipta, menyelidiki. Self-directionbersumber dari kebutuhan organismik akan kontrol dan penguasaan (mastery), serta interaksi dari tuntutan otonomi dan ketidakterikatan. Nilai khusus yang termasuk tipe nilai ini adalah : creativity, curious, freedom, choosing own goals, independent.
6)       Universalism
Tipe nilai ini termasuk nilai-nilai kematangan dan tindakan prososial. Tipe nilai ini mengutamakan penghargaan, toleransi, memahami orang lain, dan perlindungan terhadap kesejahteraan umat manusia. Contoh nilai khusus yang termasuk tipe nilai ini adalah : broad-minded, social justice, equality, wisdom, inner harmony.



7)       Benevolence
Tipe nilai ini lebih mendekati definisi sebelumnya tentang konsep prososial. Bila prososial lebih pada kesejahteraan semua orang pada semua kondisi, tipe nilai benevolence lebih kepada orang lain yang dekat dari interaksi sehari-hari. Tipe ini dapat berasal dari dua macam kebutuhan, yaitu kebutuhan interaksi yang positif untuk mengembangkan kelompok, dan kebutuhan organismik akan afiliasi. Tujuan motivasional dari tipe nilai ini adalah peningkatan kesejahteraan individu yang terlibat dalam kontak personal yang intim. Nilai khusus yang termasuk tipe nilai ini adalah : helpful,honest, forgiving, responsible, loyal, true friendship, mature love.
8)      Tradition
Kelompok dimana-mana mengembangkan simbol-simbol dan tingkah laku yang merepresentasikan pengalaman dan nasib mereka bersama. Tradisi sebagian besar diambil dari ritus agama, keyakinan, dan norma bertingkah laku. Tujuan motivasional dari tipe nilai ini adalah penghargaan, komitmen, dan penerimaan terhadap kebiasaan, tradisi, adat istiadat, atau agama. Nilai khusus yang termasuk tipe nilai ini adalah : humble, devout, accepting my portion in life, moderate, respect for tradition.
9)      Conformity
Tujuan dari tipe nilai ini adalah pembatasan terhadap tingkah laku, dorongan-dorongan individu yang dipandang tidak sejalan dengan harapan atau norma sosial. Ini diambil dari kebutuhan individu untuk mengurangi perpecahan sosial saat interaksi dan fungsi kelompok tidak berjalan dengan baik. Nilai khusus yang termasuk tipe nilai ini adalah politeness, obedient,honoring parents and elders, self discipline.
10)   Security
Tujuan motivasional tipe nilai ini adalah mengutamakan keamanan, harmoni, dan stabilitas masyarakat, hubungan antar manusia, dan diri sendiri. Ini berasal dari kebutuhan dasar individu dan kelompok. Tipe nilai ini merupakan pencapaian dari dua minat, yaitu individual dan kolektif. Nilai khusus yang termasuk tipe nilai ini adalah national security, social order, clean, healthy, reciprocation of favors, family security, sense of belonging.[7]
D.       Aliran-aliran dalam filsafat nilai
Adapun aliran-aliran dalam filsafat nilai yaitu, diantaranya:
1.      Eidemonia Aristoteles
Aristoteles lahir di stagira, kota diwilayah Chalcidice, Thracia Yunani (dahulunya termasuk wilayah Makedonia tengah) tahun 384 SM. Ayahnya adalah tabib pribadi Raja Amyntas dari Makedonia. Pada usia 17 tahun, Aristoteles tergabung menjadi murid plato. Kemudian, ia meningkat menjadi guru di Akademik Plato di Athena selama 20 tahun. Setelah plato meninggal, Aristoteles meninggalkan akademik tersebut dan menjadi guru bagi Alexander dari makedonia. Saat Alexander berkuasa pada tahun 336 SM, Aristoteles kembali keAthena. Dengan dukungan dan bantuan Alekander, ia mendirikan akademi sendiri yang diberi nama lyceum, yang dipimpimpinya sampai tahun 323 SM.
Filsafat Aristoteles berkembang pada saat ia memimpin lyceum, yang mencangkupnenam karya tulisnya yang membahas masalah logika.  Keenam karya tulis tersebut dianggap sebagai karya yang paling penting, selain kontribusinya dalam bidang metafisika, fisika, etika, politik, kedokteran, dan ilmu alam.
Pemikiran aristoteles sangat berpengaruh pada pemikiran barat dn pemikiran keagamaan lain pada umumnya.penyelarasan pemikiran Aristoteles dengan teologi kristiani dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas pada abad ke-13, dengan teologi yahudi oleh maimonides (1135-1204), dan dengan teologi islam oleh ibnu rusyd (1126-1198). Bagi manusia abad pertengahan, Aristoteles tidak hanya dianggap sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, tetepi juga dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau the master of those who know, sebagaimana yang kemudian dikatakan oleh Dante Alighieri.
Meskipun Aristoteles merupakan murid terkemuka plato, ia tidak sependapat dengan gurunya yang menyatakan bahwa manusia telah mengenal idea yang baik dan hidup yang baik bisa tercapai dengan kontemplasi dengan idea yang baik tersebut. Menurut Aristoteles kehidupan yang baik harus dicari dan bertolak dari realitas manusia mengabstrasikan apa yang disebut kebaikan. Berangkat dari pendekatan yang serba empiris yang digunakan Aristoteles, konsep-konsep tentang moral antara lain sebagai berikut:

a.           Teologis
         Pembahasan etika biasanya dibedakan antara etika deontologis dan teologis. Deontologis menyatakan bahwa kualitas etis tindakan tidak berhubungan dengan akibat tindakan, tetapi bertumpu pada tindakan itu sendiri, benar atau salah. Teologis menyatakan bahwa tindakan bersifat netral. Ia baru dinilai benar atau salah setelah melihat akibat atau tujuannya. Sebuah tindakan di nilai benar jika akibatnya baik, dan dinilai salah jika akibatnya tidak baik.[8]
b.      Eidemonia
         Eidemonia atau kebahagiaan adalah tujuan sekaligus penentu baik buruknya tindakan dalam etika Aristoteles. Menurutnya, sesuatu dinilai baik apabila tujuannya mengarah pada pencapaiaan kebahagiaan, dan dinilai buruk jika tidak diarahkan pada kebahagiaan.[9]

2.      Aliran hedonisme
Hedonisme adalah istilah teknis yang menunjuk paham mementingkan kesenangan dan kemewahan fisik. Hedonisme berasal dari kata latin hedon, yang berarti kesenangan. Dalam sejarah filsafat yunani kuno, tokoh pertama yang dikenal mengajar aliran hedonisme adalah Decocritus (400-370 SM)., yang memandang kesenangan sebagai tujuan pokok di dalam kehidupan. Sekaliun kesenangan yang dimaksud bukan semata-mata kesenangan fisik belaka. Kesenangan fisik hanya sebagai alat perangsang bagi berkembangnya intelek manusia. Menurut salah seorang pengikut socrates, yaitu Aristippus (394 SM), kesenangan merupakan satu-satunya ingin dicari manusia. Kesenangan diperoleh langsung dari panca indera. Orang yang bijaksana selalu mengusahakan kesenangan sebanyak-banyaknya, sebab kesakitan merupakan prngalaman yang tidak menyenangkan.
Bentuk hedonisme yang bercorak eudaimonisme adalah epicurisme. Aliran hedonisme dari yunani kuno timbul kembali pada abad ke-7 di inggris dengan ungkapannya, bahwa kesenangan yang dianggap penting sebagai hasil dari setiap keputusan dan tindakan manusia. Tokoh yang terkenal adalah jemery bentham (1748-1832). Sikap etis bagi betham adalah kemampuan menghitung dengan cermat rasa senang dan sakit hati, sebagai hasil perbuatan untuk kemudian mengurangi sebanyak mungkin rasa sakit menuju sebanyak-banyaknya rasa senang. Konsep hedonistik calculus atau rumus menghitung jumlah rasa senang dan sakit. Ukuranya meliputi tujuh unsur, yaitu:
1.     Intensity, kuat atau lamahnya rasa sakit dan senang.
2.     Duration, panjang atau pendeknya waktu berlaku rasa sakit dan senang.
3.     Certainty, kepastian akan timbulnya rasa tersebut.
4.     Propincuity, dekat atau  jauhnya waktu terjadi perasaan sakit dan senang.
5.    Fecundity, kemungkinan rasa sakit dan senang diikuti oleh perasaan yang sama.
6.    Purity, kemurnian dalam arti tidak tercampurnya dengan perasaan yang berlawanan.
7.     Extent, jumlah orang yang terkena perasaan itu.[10]

3.      Utilitarianisme
Utilitarisme adalah sebuah gagasan yang diusulkan oleh David Hume untuk menjawab moralitas yang saat itu mulai diterpadai keraguan yang besar, tetapi pada saat yang sama masih tetap sangat terpaku pada aturan-aturan ketat moralitas yang tidak mencerminkan perubahan radikal pada zamannya.
Ulilitarisme secara utuh dirumuskan oleh Jeremy Bentham dan dikembangkan secara lebih luas oleh James Mill dan John Stuart Mill. Utilitarisme terkadang disebut dengan teori kebahagiaan terbesar yang mengajarkan bahwa setiap manusia berhak meraih kebahagiaan (kenikmatan) terbesar untuk orang terbanyak.
Bentham memperkenalkan metode untuk memilih tindakan yang disebut dengan utility calculus, hedonistik calculus, atau felicity calculus. Menurutnya, pilihan moral yang harus dijatuhkan pada tindakan yang lebih banyak jumlahnya dalam memberikan kenikmatan, daripada penderitaan yang dihasilkan oleh tindakan tersebut. Jumlah kenikmatan ditentukan oleh intensi, durasi, kedekatan dalam ruang, produktifitas (kemanfaatan atau kesuburan), dan kemurnian (tidak diikuti oleh perasaan yang tidak enak seperti sakit atau kebosanan).
Para utilitarian menyusun argumennya dalam tiga langkah berikut berkaitan dengan pembenaran euthanasia (mercy killing), yaitu:
a.    Perbuatan yang benar secara moral adalah yang paling banyak memberikan jumlah kenikmatan dan kebahagiaan pada manusia.
b.    Dalam beberapa kesempatan, perbuatan yang paling banyak memberikan jumlah kenikmatan dan kebahagiaan pada manusia bisa dicapai melalui euthanasia.
c.     Dalam beberapa kesempatan, euthanasia dapat dibenarkan secara moral.
Argumen diatas tampak bertentangan dengan agama, Bentham menegaskan bahwa agama akan mendukung, bukan menolak, sudut pandang utilitarian bila para pemeluknya benar-benar memegang pandangan mereka tentang tuhan yang penuh kasih sayang.

4.      Aliran pragmatisme
Istilah pragmatisme berasal dari kata yunani, “pragma”, yang berarti perbuatan atau tindakan dan “isme”  yang sama artinya dengan isme-isme lainya, yaitu aliran,ajaran atau paham. Dengan demikian, pragmatisme berarty ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Kreteria kebenarannya adalah “faedah atau manfaat”.suatu teori atau hipotesis dianggap benar oleh paragmatisme apabila membawa hasil. Dengan kata lain, teori adalah benar if it works (apabila teori dapat diaplikasikan).  Pada awal perkmbangannya, pragmatisme lebih merupakan usaha untuk menyatukan ilmu pengetahuan dan filsafat agar filsafat dapat menjadi ilmiah dan berguna bagi kehidupanpraktis manusia. Sehubungan dengan usaha trsebut, pragmatisme akhirnya berkembang menjadi metode untuk memecahkan berbagai perdebatan filosofis-metafisik yang tiada henti-hentinya, yang hampir mewarnai seluruh perkembangan dan perjalanan filsafat sejak jaman yunani kuno.

5.      Nihilisme dan pencarian nilai
Jean-paul sartre adalah seorang nihilis, tetapi nihilismenya adalah konsekuensi logis kesadaran yang terus berkembang dari zaman kita bahwa nilai-nilai tidak bisa dilembagakan sehingga harus dicari pada tataran pribadi.
Sartre berpendapat bahwa manusia bebas “secara radikal” karena dia selalu mempunyai pilihan untuk menerima atau menolak. Akan tetapi, kebiasaan menggunakan heroin terbentuk, kebebasan untuk menolaknya hampir tidak “radikal”. Bahkan sering tidak ada sama sekali.
Kebebasan manusia tidak mungkin absolud selama terkait oleh hukum kodrat. akan tetapi kata-kata bisa menjadi mainan yang menyesatkan. Misalnya: orang yang menganggap manusia merdeka, bicara dari sisi moral, sebagai seseorang yang menjalani kehidupan yang tidak bertanggung jawab dan tidak bermoral, sehingga orang membayangkan kebebesan berarti kebiasaan tidak terkendali dalam segala perkataan yang menyesatkan.[11]

E.        Pengertian etika dan estetika
Dalam konteks filsafat, istilah etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethikos, ethos yang berarti adat, kebiasaan atau praktik. Maka etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau tentang adat kebiasaan.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika didefinisikan sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, dan tentang hak dan kewajiban moral. Di situ, etika dijelaskan dengan membedakan tiga arti:
1.        Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).
2.        Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak,.
3.        Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.[12]
Etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Jadi etika dan ajaran-ajaran moral tidak berada di tingkat yang sama. Yang mengatakan bagaimana kita harus hidup, bukan etika melainkan ajaran moral. Etika mau mengerti mengapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral.
Jadi etika sekaligus kurang dan lebih dari ajaran moral. Kurang, karena etika tidak berwenang untuk menetapkan, apa yang boleh kita lakukan dan apa yang tidak. Wewenang itu di klaim oleh berbagai pihak yang memberikan ajaran moral. Lebih, karena etika berusaha untuk mengerti mengapa, atau dasar apa kita harus hidup menurut norma-norma tertentu. Ajaran moral dapat diibaratkan dengan buku petunjuk bagaimana kita harus memperlakukan sepeda motor kita dengan baik, sedangkan etika memberikan kita pengertian tentang struktur dan teknologi sepeda motor sendiri.[13]

     Ada tiga macam pendekatan etika, yaitu:
Pertama, etika deskriptif.  Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu tertentu, dalam kebudayaan-kebudayaan atau subkultur-subkultur yang tertentu, dalam suatu periode sejarah, dan sebagainya. Kedua, etika normatif yaitu tentang masalah-masalah moral.[14] Ketiga, metaetika yaitu mempelajari etika khusus dari ucapan-ucapan etis.[15]
Sementara itu, estetika (aesthetics) adalah pengetahuan tentang sesuatu yang indah (mengandung keindahan). Jadi, objeknya adalah hal yang dianggap indah dan hal yang dianggap tidak indah atau jelek. Ia membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya manusia.
Estetika adalah cabang filsafat yang memberikan perhatian pada sifat keindahan, seni, rasa, atau selera (taste), kreasi, dan apresiasi tentang keindahan. Secara lebih ilmiahnya, ia didefinisikan sebagai studi tentang nilai-nilai yang dihasilkan dari emosi-sensorik yang kadang dinamakan nilai sentimentalitas atau cita rasa atau selera. Secara lebih luas, estetika didefinisikan sebagai refleksi kritis tentang seni, budaya, dan alam. Estetika dikaitkan dengan aksiologi sebagai cabang filsafat dan juga diasosiakan dengan filsafat seni.
Objek seni adalah keindahan. Kata dasarnya adalah “indah” yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah bagus, permai, cantik, elok, molek, dan lain sebagainya. Istilah “indah” sendiri mengacu pada berbagai macam aspek. Misalnya, ada yang mengatakan bahwa keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama, yaitu abadi dan mempunyai daya tarik sepanjang zaman.
Menurut The Liang Gie dalam bukunya Garis Besar estetika, kata indah berasal dari bahasa Inggris beautiful, dalam bahasa Prancis beaue, sedang dalam bahasa Italia dan Spanyol bello, dan berasal dari kata latin bellum. Akar katanya adalah bonum yang berarti kebaikan, kemudian mempunyai bentuk pengecilan menjadi bonellum dan terakhir diperpendek sehingga ditulis bellum. Menurut cakupannya, orang hanya membedakan antara keindahan sebagai suatu kwalitas abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah. Untuk perbedaan ini, dalam bahasa Inggris sering dipergunakan istilah beauty (keindahan) dan the beautiful (benda atau hal yang indah).
Keindahan memang harus dipahami berdasarkan hubungan antara subjek dan objek (yang nyata). Indah atau tidak itu adalah kualitas yang dihasilkan dari penilaian yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Benda yang dianggap indah biasanya dikaitkan dengan kualitas paling hakiki. Jadi, keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualitas pokok adalah kesatuan (unity), keselarasan (harmony), kesetangkupan (symmetry), keseimbangan (balance), dan perlawanan (contrast). Yang jelas, keindahan adalah kualitas yang dinilai dari kenyataan. Kenyataan ini adalah material, tersusun dari berbagai keselarasan dan kebaikan dari garis, warna, bentuk, ukuran, bunyi (nada) dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat, bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara benda itu dengan si pengamat.
Makna Mempelajari Estetika
                        Perkembangan dalam dunia estetika tidak hanya pada persoalan ekspresi dan pengertian, tetapi lebih dari itu estetika menjadi sebuah ilmu. Karena estetika telah menjadi disiplin ilmu, tentu ada aspek aksiologimya, yaitu asas manfaat bagi manusia. Untuk itu, kita perlu meyakini manfaat apa yang kita dapatkan dari ilmu estetika. Dengan kata lain, gunanya kita mempelajari ilmu estetika. Adapun manfaat dari mempelajari ilmu estetika adalah sebagai berikut :
1.                  Memperdalam pengertian rasa indah pada umumnya dan kesenian pada khususnya.
2.                  Memperluas pengetahuan dan menyempurnakan pengertian unsur-unsur objektif yang membangkitkan rasa indah pada manusia.
3.                  Memperluas pengetahuan dan menyempurnakan pengertian unsur-unsur subjektif yang berpengaruh atas kemampuan manusia menikmati keindahan.
4.                  Memperkukuh rasa cinta pada kesenian dan kebudayaan bangsa pada umumnya serta mempertajam kemampuan untuk mengapresiasi (menghargai) kesenian dan kebudayaan bangsa lain sehingga mempererat hubungan antar bangsa.
5.                  Melatih diri untuk untuk berdisiplin dalam cara berfikir dan mengatur pemikiran dengan sistematik yang baik, membangkitkan potensi untuk berfalsafah, yang akan memberikan kemudahan dalam menghadapi segala permasalahan, memberi wawasan yang luas dan bekal bagi kehidupan spiritual dan psikologis.[16]

IV.        KESIMPULAN

V.           PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan. Kami sebagai penulis tidak dapat memungkiri bahwa adanya kekurangan dan kelemahan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami mohon kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi pembaca sekalian.


                [1] Mangunhardjana, Isme-Isme Dalam Etika, Yogyakarta: Kanisius, 1997, hlm 11-12.
                [2] http//:Syamsulnani.blogspot.com/2012/03/sejarah-filsafat-nilai.html?m=1. Di akses  21-05-2015 pukul 13:32
                [3] R.B. Perry, General theory of value, cambrige:Harvard university press, 1954, hlm 3.
[4] Juhaya S.Pradja,  Pengantar Filsafat Nilai, Bandung: pustaka setia,  hlm 82.
                [5] Juhaya S.Pradja,  Pengantar Filsafat Nilai, hlm 88-89.
                [6] Juhaya S.Pradja,  Pengantar Filsafat Nilai, hlm  99.
                 [7]Juhaya S.Pradja,  Pengantar Filsafat Nilai, hlm 104-106.


                [8] Muhammad Alfan, Pengantar Filsafat Nilai, Bandung: CV Pustaa Setia, 2013, hlm 113.
                [9] Muhammad Alfan, Pengantar Filsafat Nilai, hlm 115-116.
[10] Muhammad Alfan, Pengantar Filsafat Nilai, hlm 121.
                [11] Muhammad Alfan, Pengantar Filsafat Nilai, hlm 129.
                [12] Zaprulkhan, Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik, Jakarta: Rajawali Pers, 2012, hlm 168-169.
                [13] Zaprulkhan, Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik, hlm 171-172.
                [14] Zaprulkhan, Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik, hlm 176-177.
                [15] Zaprulkhan, Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik, hlm 179.
                [16] Muhammad Alfan, Pengantar Filsafat Nilai, hlm 203-204.